Minggu, 01 Januari 2012

POSYANDU BERMEDIA Mendorong Perempuan Berdaya

RADEKKA FM  kembali bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dalam produksi 16 Talkshow PEREMPUAN GUNUNGKIDUL  edisi Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). Ada yang berbeda dengan penyelenggaraan tahun lalu karena dikemas dalam Program POSYANDU BERMEDIA yang melibatkan pengurus posyandu di 2 dusun yakni Dusun Salak dan Dusun Wonosari DKKS.

Program POSYANDU BERMEDIA dimulai dengan dikusi refleksi posisi posyandu di tengah masyarakat dan perencanaan pengembangannya di masa yang akan datang. Sebagai bagian dari pengembangan awal posyandu maka RADEKKA FM membagikan 25 buah radio monitor yang akan menjadi instrumen pengembangan posyandu. 16 Talkshow yang disiarkan dalam Program Radio PEREMPUAN GUNUNGKIDUL dijadikan salah satu model diseminasi pengetahuan perempuan. Narasumber yang membagikan pengetahuan perempuan datang dari pegiat isu perempuan, aktivis LSM, hingga Kepala Dinas Perindusitrian Perdagangan Koperasi dan Pertambangan Kabupaten Gunungkidul yang semuanya adalah perempuan.

Program POSYANDU BERMEDIA akan dikembangkan sebagai model pengembangan posyandu dalam melayani peningkatan kesejahteraan warga, Melalui POSYANDU BERMEDIA, perempuan akan memanfaatkan media komunitas dalam mengembangkan diri memperkuat perannya memajukan masyarakat dan lingkungannya. Semoga Sukses.

Senin, 14 November 2011

Diklat Dasar Jurnalistik Radio Bagi Radio Komunitas


courtesy : suarakomunitas.net
Yogyakarta. Pendidikan jurnalistik bagi radio komunitas sangat penting demi meningkatkan kualitas dan produktifitasnya. Untuk itu dua puluh pengelola radio komunitas Yogyakarta mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh MMTC bekerjasama dengan JRKY, dan dibiayai melalui DIPA STMM "MMTC Yogyakarta tahun anggaran 2011.
Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari (7-9/11) ini bertempat di ruang Production Meeting Room dan Laboratorium Editing Audio STMM "MMTC Yogyakarta ini bertujuan untuk memberikan atau menambah pengertian dasar-dasar bagi pengelola radio komunitas tentang penulisan jurnalistik, pengertian etika jurnalistik dan P3-SPS, penulisan naskah berita radio, tekhnik wawancara reportase serta editing produksi berita radio.

Narasumber yang dihadirkan untuk pelatihan ini merupakan praktisi/akademisi yang kompeten dibidangnya seperti Masduki, S.Ag., Msi.,MA, Rachmad Arifin, S.IP, Tri Suparyanto, SPD, Tri Umi Setyowati, SPT, Drs. Atang Basuki dan koordinator  yang merupakan Kepala Bidang Program dan Evaluasi Sekolah Tinggi Multi Media "MMTC" Yogyakarta.  Kegiatan yang meliputi teori dan praktik ini berjalan lancar, semua peserta mengikuti praktik wawancara dan reportase serta membuat Stright news.

Pada akhir acara peserta juga memberikan pendapat tentang penyelenggaraan kegiatan pelatihan ini. Disampaikan oleh Drs. Kusumo Gambriyanto, Msi bahwa jika kegiatan ini dirasakan penting dan memberikan manfaat yang besar bagi Rakom maka akan kami upayakan dapat diselenggarakan di tahun-tahun berikutnya.

Reported : Djumadi-Widjaya Fm

Jumat, 07 Oktober 2011

Fotografer TIMUR ANGIN Dokumentasikan Aktivitas RADEKKA FM

Fotografer Film ELIANA ELIANA GIE dan SANG PEMIMPI Minggu 18 September 2011 kunjungi DKKS untuk mendokumentasikan aktivitas RADEKKA FM.

Selama hampir 2 jam Mas TIMUR ANGIN beraksi dengan kameranya untuk mengambil gambar Reporter Perempuan RADEKKA FM saat lakukan interview dengan warga. Aktivitas Siaran Ank-Anak SAP juga tak luput dari ratusan jepretannya.

Terima kasih Mas TIMUR ANGIN sudah mengabadikan aktivitas kami dan semoga kunjungannya ke DKKS berkesan.

Jumat, 30 September 2011

GdHE Siar di jogjastreamers.com

Majalah Udara Gunungkidul di Hari Esok (GdHE) yang siar jejaring  5 radio di Gunungkidul mulai 21 September 2011 juga bisa disimak melalui www.jogjastreamers.com

Dengan demikian harapan warga di luar Gunungkidul untuk dapat menyimak GdHE telah dapat terealisasi berkat instrumen baru yang dimiliki Radio Argososro FM ini.

Respon pendengar yang simak via jogjastreamers.com terlihat fositif . Hal ini dapat ditengok pada tanggapan penggemar yang disampaikan dalam akun FB Redaksi GdHE dan fanspage Radio Argososro. Semoga semakin mampu menjadi jembatan informasi antar warga dan saudaranya yang tinggal di luar Gunungkidul terkait isu daerahnya.


Jumat, 09 September 2011

Program Marketing Partner RADEKKA FM - RM AYAM GORENG SEGER WARAS - BMT EL BUMI

RADEKKA FM mengembangkan partner marketing (kemitraan pemasaran) DKKS dengan bekerjasama RM Ayam Goreng Seger Waras Kalipentung Patuk dan BMT El Bumi Patuk. Kemitraan Pemasaran ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan isu konservasi alam kepada pihak yang lebih luas dan menambah nilai lebih proses kemitraan.

RM Ayam Goreng Seger Waras yang dikunjungi lebih dari 25 ribu pengunjung per tahun adalah media efektif untuk memperkenalkan isu konservasi alam. RADEKKA FM memajang Banner Hutan Pendidikan DKKS di ruang pelayanan rumah makan tersebut.

BMT El Bumi adalah lembaga keuangan mikro berbasis syariah yang memiliki komitmen tinggi pada dukungan bagi masa depan anak yatim-piatu adalah mitra strategis RADEKKA FM sehingga dari kemitraan yang terbangun akan menyelamatkan semakin banyak anak yatim-piatu yang menjadi pendengar RADEKKA FM.

Sebagai kontra-prestasi RADEKKA FM secara terjadual memutar informasi (non profit) tentang lembaga mitra pemasaran tersebut

Model Marketing Partner ini akan dikembangkan oleh RADEKKA FM di masa mendatang untuk memaksimalkan amanat eksistensinya bagi warga di Gunungkidul.



Selasa, 06 September 2011

SAP-RADEKKA FM Produksi Audio Surat - Surat Pendek


Sekolah Anak Petani (SAP) Gunungkidul bekerjasama dengan RADEKKA FM memproduksi audio Surat - Surat Pendek yang akan diputar secara reguler di 107.7 RADEKKA FM.

Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperkaya pengalaman siswa - siswi SAP dalam berpartisipasi mengelola media komunitas DKKS.

Pada tahap pertama pembuatan audio ini, siswa-siswi yang terlibat adalah mereka yang berusia di bawah 12 tahun yang bertujuan untuk mendorong generasi sebayanya sedini mungkin mengenal media komunitas. Take Voice pada tahap pertama telah dilakukan pada Selasa 7 September 2011 oleh 8 anak dengan memproduksi audio Surat An Naas, Surat An Nashr, Surat Al Kautsar, Surat Al Kaafiruun, Surat Al Iklhash, Surat Al 'Ashr, Surat Al Ma'uun, dan Adzan

Minggu, 28 Agustus 2011

Pengembangan SEGITIGA EMAS GUNUNGKIDUL


Foto : From google.com

Desa Kawasan Konservasi Semoyo (DKKS)-Desa Kerajinan Bobung-GeoPark Gunung Api Purba Nglanggeran, 3 desa inovatif yang berada di Kecamatan Patuk mempersiapkan diri menjadi SEGITIGA EMAS GUNUNGKIDUL.

Grand Desain SEGITIGA EMAS GUNUNGKIDUL ini sedang dimatangkan dengan fasilitasi Redaksi Gunungkidul di Hari Esok (GdHE).

Dalam desainnya kawasan SEGITIGA EMAS GUNUNGKIDUL ini akan dilengkapi kereta kabel yang akan melintas di atas 3 desa inovatif tersebut. Keberadaan kereta kabel ini diharapkan akan semakin meramaikan geliat wisata Gunungkidul yang makin ramai 3 tahun terakhir. Terlebih keberadaan GeoPark Gunung Api Purba Nglanggeran yang semakin terkenal di level internasional pasca pengenalan geopark oleh UNESCO, DKKS sebagai model desa inventarisasi karbon di Indonesia, dan produk kerajinan kayu Bobung yang semakin populer di mata masyarakat.

Semoga SEGITIGA EMAS GUNUNGKIDUL yang didukung investor dari Jepang ini akan semakin mensejahterakan Gunungkidul Handayani.

Jumat, 26 Agustus 2011

Talkshow PEREMPUAN GUNUNGKIDUL dengan JRKY dan KPA DIY

Program Radio PEREMPUAN GUNUNGKIDUL untuk edisi 26 Agustus 2011 kembali menghadirkan narasumber dr. Martha dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul. Dalam perannya sebagai anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Daerah Gunungkidul, dr. Martha menjelaskan care dan treatment bagi ODHA.

Program Radio PEREMPUAN GUNUNGKIDUL ini merupakan kerjasama RADEKKA FM-Jaringan Radio Komunitas Yogyakarta (JRKY) dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Daerah Isimewa Yogyakarta

Untuk mendengarkan sila klik judul.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Anak Petani Belajar Pertanian di Sekolah Anak Petani (SAP)


courtesy Harian Jogja 3 Agustus 2011

Sejumlah anak petani di Desa Semoyo, Kecamatan Patuk tampak antusias mengikuti pembelajaran di salah satu rumah sederhana milik Sutarmi, warga Semojo. Hanya menggunakan papan berupa kertas buram dengan peralatan seadanya, anak petani diberi bekal tentang lingkungan. Proses pembelajarannya pun tak serumit sekolah formal, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan, keinginan dan kemampuan siswa. Proses belajar seperti itu berlangsung di Sekolah Anak Petani (SAP).

Ramadan tak membuat murid SAP berhenti memperoleh ilmu tentang lingkungan. Meski demikian, jumlah anak yang belajat memang agak berkurang. “Biasanya sampai 20-an anak yang belajar, tetapi ini kebetulan Ramadan sehingga jumlahnya agak berkurang,” ujar Sutarmi saat mendampingi siswa SAP, Selasa (2/8).

SAP yang ia bentuk sejak sekitar lima tahun silam, perlahan memberi kesadaran kepada anak usia SD hingga SMA memahami pentingnya melestarikan lingkungan. Sutarmi pun tidak membebani siswanya dengan biaya pendidikan. Dia mengaku kedatangan anak-anak desa ke rumahnya sudah membuatnya bangga.

“Biasanya yang mengajar bergantian, kadang ada guru PAUD atau TK, atau teman dari LSM yang secara ikhlas bersedia memberikan ilmu kepada anak-anak, mumpung mereka bersedia dan mau belajar tentang lingkungan,” imbuhnya.

Tiap hari SAP berlangsung dua jam dari pukul 14.00 WIB-16.00 WIB atau setelah siswa pulang dari sekolah formal. “Tempat ini bisa sebagai lokasi bermain juga, tetapi sambil belajar,” ungkapnya.

DI SAP, siswa diberi pemahaman tentang perawatan lingkungan di wilayah konservasi. Siswa juga diberi pemahaman tentang Pertanian. “Kami ingin anak-anak bersedia mengenal pertanian, atau syukur-syukur bertani. Saat ini banyak remaja yang sudah enggan bertani padahal anak petani,” terang Sutarmi.

Salah satu siswa SAP, Yesi, murid kelas III SD Negeri Semoyo mengaku senang belajar di SAP. Selain bisa membantu saat mengerjakan PR, komunitas SAP juga memberikan kegembiraan karena dia bisa bermain dengan banyak teman.(Wartawan Harian Jogja Express/Sunartono)

Liputan "JOGJA HIJAU" HARIAN JOGJA

Evaluasi Dengar Pendapat (EDP) RADEKKA FM

Kamis 28 Juni 2011 Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Evaluasi Dengar Pendapat (EDP) untuk Radio Desa Kawasan Konservasi-RADEKKA FM.

Bertempat di halaman studio RADEKKA FM yang dihadiri 100an undangan, EDP RADEKKA FM berjalan lancar hingga lepas tengah hari.

EDP RADEKKA FM ini diselenggarakan sebagai tahapan untuk memperoleh Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) dan Izin Stasiun Radio (ISR) dari Dirjen Postel dan Kominfo Republik Indonesia

Sabtu, 16 Juli 2011

DKK Pamerkan Hasil Industri Kerajinan Kayu di Taman Pintar


DKK berpartisipasi dalam Pameran FairTrade di Taman Pintar Yogyakarta pada Minggu 29 Mei 2011. DKK menampilkan produk kerajinan unik dari kayu berupa Meja Akar dan Gagang Pintu dengan beragam bentuk.

Display Pameran DKK berjajar diantara puluhan display dari jejaring komunitas FairTrade dari seluruh Indonesia.

Pameran FairTrade di Taman Pintar Yogyakarta ini juga dimeriahkan dengan sepeda santai yang diikuti ratusan peserta dan panggung musik.

Senin, 11 Juli 2011

Bumi Pengetahuan


RADEKKA FM-Radio Desa Kawasan Konservasi melalui pegiatnya terlibat dalam pembuatan produk audio BUMI PENGETAHUAN yang merupakan media konvergensi dari media online Wikipedia Indonesia yang diterjemahkan dalam bahasa jawa komunikatif dan kemudian dituangkan dalam bentuk audio.

BUMI PENGETAHUAN yang merupakan kerjasama Combine Resource Institution dan Wikipedia Indonesia ini mengangkat tema-tema lokal jogja seperti keraton, tugu, kethoprak, hanacaraka, dan lain sebagainya untuk edisi Bahasa Jawa. Sementara untuk edisi Bahasa Sunda, Banyumasan, dan Bahasa Sasak mengangkat lokalitas masing-masing.

BUMI PENGETAHUAN diputar di Majalah Udara Gunungkidul di Hari Esok (GdHE) yang siar di 93,2 Argososro FM, Radekka FM, RAG FM, Mahardika FM, dan Argosari Radioline.

Sabtu, 12 Februari 2011

Pakar Hama Cornell University USA Kunjungi DKK


Desa Kawasan Konservasi kembali mendapatkan teman seperjalanan dalam pembelajaran harmoni alam. Curtis H. Petzoldt, Ph.D, pakar hama dari Cornell University Amerika Serikat mengunjungi DKK pada 5 Januari 2011. Kunjungan diisi dengan berjalan mengitari kawasan konservasi Dusun Salak. Sepanjang tapak jalan, pakar hama tersebut terlihat serius memperhatikan detail pepohonan yang ada di sekelilingnya, mulai dari pangkal batang, dahan, hingga ujung daun. Sesekali Bapak bertopi ini menunjukan ulah hama yang menggerogoti bagian-bagian dari pohon sembari menjelaskan bahwa hasil kajiannya menunjukkan hama lebih cepat beradaptasi pada perubahan iklim yang tengah terjadi. Ia menjelaskan akan melanjutkan kajian tersebut untuk menghasilkan rekomendasi pada sektor pertanian tanaman pangan dan kehutanan. Ia menyatakan sangat tertarik dengan apa yang dilakukan DKK karena hal ini sangat bermanfaat bagi dunia riset. Keterpaduan antara pengelolaan kawasan konservasi dan media komunitas sangat diapresiasi olehnya.
Saat mengunjungi DKK Curtis H. Petzoldt,Ph.D ditemani Jerry Chamberland, konsultan DKK, Hernindya Wisnuadji Koordinator Pemberitaan Radekka FM, dan Suratimin Ketua SPP Gunungkidul.

Rabu, 12 Januari 2011

Plt Bupati Me-Launching Program Radio Perempuan Gunungkidul



Courtesy : KRJogja.com

WONOSARI (KRjogja.com) - Jaringan media komunitas radio melaunching Program Radio Perempuan Gunungkidul bantuan dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak(PPPA) di desa Kawasan Konservasi Desa Semoyo Patuk melalui kanal 107,7 Frequensi Medium (FM) diresmikan.

“Keberadaan radio ini diharapkan bermanfaat dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempua,” ungkap PLT Bupati Hj Badingah S Sos kepada KRjogja.com Minggu (19/12) malam.

Lounching dilakukan Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Sumaryoto SH mewakili bupati ditandai dengan penyerahan buku Jaringan Kelompok Perempuan Gunungkidul. “Kami harapkan radio ini bisa memberdayakan perempuan dan mengatasi berbagai masalah yang selama ini masih banyak dihadapi kaum perempuan,” ujarnya usai membacakan amanat tertulis PLT Bupati Hj Badingah S Sos.

Dilaporkan pimpinan Studio Radio Desa Kawasan Konservasi (Radekka) Suratimin program radio perempuan Gunungkidul ini akan menyiarkan 16 tema "talkshow" bertujuan untuk mensosialisasikan kesetaraan dan keadilan gender. Program radio perempuan yang disiarkan melalui Radekka FM Desa Semoyo Kecamatan Patuk tersebut merupakan salah satu radio komunitas 'modeling' yang diselenggarakan 25 kabupaten di pulau Jawa.

“Seluruh kru maupun penyiar radio ini semua dilakukan perempuan.” Imbuhnya

RADEKKA FM Kirim Pakan Ternak untuk Pendengar LINTAS MERAPI FM


RADEKKA FM menjadi perintis pengiriman bantuan pakan ternak segar untuk korban erupsi Gunung Merapi 2010.

Pengiriman Pakan Ternak Segar berupa rumput hijau ini sebagai pembuka pengiriman bantuan natura dari masyarakat Gunungkidul kepada korban Merapi yang ada di Boyolali, Klaten, Sleman, dan Magelang. Tercatat puluhan trip pemberangkatan bantuan dari keseluruhan jaringan organisasi anggota SRAWUNG yang ada di 18 Kecamatan.

Pengiriman bantuan ini dikoordinasikan oleh JALIN MERAPI - RADEKKA FM - SRAWUNG GUNUNGKIDUL.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Produksi Ceriping: Awal Baru Pengembangan Industri Kreatif





Oleh: Dian Mardiana

Bentuknya bundar tidak beraturan. Rasanya gurih dan renyah di lidah. Makanan ini dirajang begitu tipis. Bahan dasarnya bisa dari ubi kayu, ubi jalar, sukun, dan pisang. Disukai mulai dari yang muda sampai usia senja. Malah biasa jadi cemilan keluarga. Masyarakat Gunung Kidul mengenalnya dengan nama ceriping.

Puput, anak sekolahan kelas 3 SMA mengemilnya di waktu senggang. Dia mendengar musik. Ditemani ceriping ubi kayu di atas mejanya. Tidak hanya itu, warung-warung terdekat pun menjajakannya, menggantung di papan atas warung. Sepertinya cemilan ini cukup tenar dan digemari warga Semoyo Dusun Salak ini. Malah, sederetan rumah di dusun ini menjadi pusat produksi rumah tangga.

Mudah dikelola

Pengelolaan ceriping memang tidak memerlukan banyak biaya. Apalagi, pengelolaannya langsung oleh para petani di desa itu. Maryanti misalnya, dia petani juga pengusaha. Usahanya bisa terbilang sukses. “saya sudah benyak mendistribusikan ceriping ini ke banyak warung-warung, pasar, toko-toko dan agen di Yogyakarta” ujarnya berbangga diri. Ditemani oleh tiga orang pegawai, dia yakin dengan usaha ceriping dirinya akan terus maju dan sukses.

Dengan penuh percaya diri, single parent ini menerangkan bahwa potensi ceriping di Desa Semoyo memang baik. Pasalnya, pertanian desa semoyo banyak menghasilkan umbi-umbian yang bisa dikelola dengan bermacam cara. Ceriping salah satunya. Tengok saja data hasil tani di Kabupaten Gunung Kidul. Ubi kayu muncul menempati prosentase tinggi. Catatan terakhir melaporkan bahwa produksi ubi kayu tahun 2008 menempati angka 791.630 ton untuk luas lahan 79.264 ha.

Dilihat dari hasil produksinya tentu saja potensi ini patut dikembangkan. Industri ceriping bisa saja jadi alternatif industri komunitas di wilayah yang terkenal dengan bukit kapur ini. Dengan karakter desa yang jauh dari sumber mata air dan berdiri di atas tanah berkapur, perlulah ditanami tanaman yang tidak rakus air. Sejalan dengan sifatnya, pemanfaatan umbi-umbian adalah potensi alternative yang sangat memungkinkan. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya tanaman ubi kayu di dibibir-bibir ladang. Dan di kebun dekat pekarang rumah banyak ditemukan juga pohon-pohon besar seperti durian, mangga, sukun, dan beberapa pohon besar yang bisa hidup tanpa limpahan air. Jika begitu, wajar saja jika Maryanti, salah satu perempuan tani di daerah ini membidik usaha ceriping sebagai salah satu potensial industri rumah tangganya.

Dalam prosesnya pengelolaan ubi kayu, ubi jalar, sukun, dan pisang ini memang tidak dikelola oleh maryanti sendiri. Tiga orang tetangganya pun ikut terlibat dalam pembuatannya. Selain menambah penghasilan keluarga, usaha ini memang menjadi salah satu kreasi ibu-ibu untuk memulai bisnis ceriping.

Mudah dibuat

Sumartini dan rekannya membungkus ceriping dalam kemasan kecil

Pembuatan ceriping terbilang mudah dipraktekan. dengan bahan baku yang murah dan mudah didapat, bumbu pun tidak banyak menguras saku. Ubi kayu misalnya, ubi kayu untuk ceriping dipilih yang tidak terlalu tua tidak juga terlalu muda. Kupas dan bersihkan. Setelah itu ubi kayu pun dirajang dengan pasah, sebuah alat perajang tradisional. kemudian mulailah ubi kayu ini direndam dalam air mendidih, dinginkan dan rendam lagi dengan air kapur yang sudah diendapkan. Goreng dan berilah bumbu. Setelah itu masuklah pada proses pengemasan. Ubi kayu yang sudah dibumbui itu dimasukan ke dalam plastik ukuran 1 ons dengan ditempeli label.

Dengan mudahnya pembuatan ceriping ini mendorong warga desa semoyo untuk mengembangkannya dalam industri rumah tangga kreatif. Hal ini memang baik untuk pengembangan potensi desa yang dikenal rawan air ini. Selain mengelola lahan pertanian, hasilnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Harganya terjangkau

Ceriping bukanlah cemilan mewah yang menghabiskan pundi-pundi uang saku. Harganya murah meriah. Dari mulai Rp. 500,- sampai 17.000,- tergantung pada kemasannya. Perempuan yang biasa dipanggil Mba Simar sendiri lebih memilih menjualnya murah. Satu bungkus itu harga jualnya Rp. 500,- di warung-warung dan pasar. “Sedangkan untuk satu pak berisi 10 bungkus dijual Rp. 4.000,-“ ujarnya sambil tekun merajang ubi kayu tipis-tipis.

Semakin baik kemasan dan kualitas makanannya, semakin mahal harganya. Namun semahal-mahalnya ceriping, semua kalangan masih bisa membelinya. Ini pulalah yang membuat ceriping menjadi cemilan keluarga semua kalangan dari mulai warga kolong jembatan sampai warga berumah megah bertanah hektar. Semoga saja bukan hanya Mba Simar di Desa Semoyo ini muncul pula Mba-Mba lainnya yang bisa bangkit, membidik peluang, dan mengembangkan bisnis keluarga di sektor pertanian lainnya.

Kamis, 21 Oktober 2010

Radekka FM-Republik Anak Kenalan Produksi Feature Anak Hari Pangan Se-Dunia 2010


Radekka FM bekerjasama dengan Republik Anak Rak Kenalan memproduksi feature radio anak dalam rangka menyemarakan Hari Pangan se-Dunia yang diperingati tiap tanggal 16 Oktober. Feature radio yang berjudul “ Pangan Lokal, Pangan Sehat, Kini dan Masa Depan “ ini diperankan oleh anak- anak SD Kanisius Kenalan Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang. Ketrampilan RAK Kenalan yang tidak diragukan lagi dalam olah vocal dan kolaborasi iringan musik lokal “Blekotek” semakin mempercantik feature anak yang diproduksi pertama kali ini. Pesan yang disampaikan oleh anak dalam feature ini mengkampanyekan pangan lokal untuk melawan penjajahan produk pabrikan yang hanya menguntungkan kapitalis belaka.Feature ini juga bermaksud untuk menumbuhkan kesadaran kepada anak atas tema tahun 2010 " Bersatu Melawan Kelaparan "

Minggu, 26 September 2010

Relay Pagelaran Wayang Kulit HUT SKH Kedaulatan Rakyat ke-65

Dok.KRJogja.com


Sabtu 25 September 2010 mulai pukul 20.30 hingga subuh, Radekka FM merelay Pagelaran Wayang Kulit HUT SKH Kedaulatan Rakyat ke 65. Pagelaran Wayang Kulit yang diselenggarakan di Halaman Percetakan KR ini, mengambil lakon "Mbangun Pringgondani" oleh Ki Dalang Rusmadi dari Wates Kulonprogo. Lakon sentral Gatotkaca yang sukses membangun Pringgondani dengan filosofi toto titi tentrem kerto raharjo ini disuguhkan secara apik dan sangat diminati pendengar Radekka FM

Kunjungan Dewan Kehutanan Nasional



SPP menyambut kunjungan Dewan Kehutanan Nasional(DKN)di Desa Kawasan Konservasi pada hari Sabtu 25 September 2010. Kunjungan ini dimaksudkan untuk menindaklanjuti pengembangan hutan kemasyarakatan yang telah dilakukan warga DKK. Kunjungan Andrian dari DKN ditemani Suryo dan Dwi Nugroho dari ARUPA ini diterima Suratimin Ketua SPP di studio Radekka FM.Dalam kunjungan tersebut Suratimin memaparkan kondisi hutan kemasyarakatan di Desa Semoyo mulai dari kondisi 40an tahun yang lalu hingga kemudian DKK dicanangkan oleh Bupati dan kini terus berproses dalam isu konservasi dan isu desa pusat pertumbuhan.

Rabu, 22 September 2010

Kaum Perempuan, (Bukan) Orang Rumahan



Oleh: Dian Mardiana

Mengapa tanahku rawan ini
Bukit bukit telanjang berdiri
Pohon dan rumput enggan bersemi kembali
Burung-burung pun malu bernyanyi

Kuingin bukitku hijau kembali
Semenung pun tak sabar menanti
Doa kan kuucapkan hari demi hari
Kapankah hati ini kapan lagi

Lagu nge-tren penyanyi Gombloh Berita Cuaca di era 80an sepertinya cocok untuk menggambarkan berita alam di daerah Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Banyak harapan yang harus diperjuangkan terkait dengan tanah dan lahan pertanian. Tentunya semua asa dan perubahan ini tidak bisa dilakukan hanya dengan mengangkat tangan dan memohon doa belaka.

*Tulisan yang menceritakan perjalanan Perempuan Desa Kawasan Konservasi ini dapat ada baca selengkapnya dengan meng-klik judul

Selasa, 07 September 2010

Menumbuhkan Kesadaran Rakyat dengan Display Penganggaran Daerah



Jaringan Media Komunitas Gunungkidul (JMKGK) bekerjasama dengan Pusat Informasi dan Transparansi Anggaran (PITA) Gunungkidul menerbitkan Display Penganggaran Daerah Gunungkidul pada senin 6 September 2010. Display yang terbit sebagai suplemen Harian Jogja tersebut menyajikan Hasil analisa kebijakan penganggaran Gunungkidul tahun 2010 yang dikemas dengan menarik dan informatif. Selain dijadikan suplemen Harian Jogja, display yang berukuran 2 halaman Koran tersebut juga akan dibagikan keseluruh kelompok warga di tiap RT se Kabupaten Gunungkidul melalui jaringan Sarana Rembug Antar Warga untuk Gunungkidul (SRAWUnG). Penerbitan Display Penganggaran Gunungkidul ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran rakyat untuk terlibat dalam penganggaran Gunungkidul. Partisipasi rakyat mutlak diperlukan supaya penganggaran daerah tetap bertujuan untuk pemenuhan hak dasar rakyat dan implementasi dari strategi penanggulangan kemiskinan daerah.

Rabu, 14 Juli 2010

Mendiskusikan Media Advokasi yang Lebih Kuat


Suarakomunitas.net Mendiskusikan media komunitas memang menarik apalagi membahas keunikan lokal yang membentuk pengelolaannya. Media komunitas yang menjadi bagian dari media advokasi ini harus terus menerus mengeksplorasi gagasan untuk menjadi lebih kuat bagi gerakan advokasi warga. Workshop Mengagas Media Advokasi yang Lebih Kuat yang diselenggarakan oleh Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat (FPPM) Bandung pada 10 – 12 Juli 2010 di Menara Peninsula Jakarta setidaknya menjadi ruang diskusi untuk mengembangkan media advokasi.

Kegiatan yang dihadiri oleh pegiat media komunitas dari 10 daerah di Indonesia ini bertujuan untuk mereview pengelolaan media komunitas dan mendesain media komunitas untuk advokasi dan partisipasi. Workshop ini semakin diperkaya dengan paparan dari nara sumber seperti Muhammad Hasyim dari Radio Suara Warga Jombang yang memaparkan Tips Praktis Mengembangkan Radio Komunitas untuk Advokasi Kebijakan dan Penguatan Partisipasi, Wasingatu Zakiyah dari IDEA Yogyakarta menyampaikan Tips Praktis Membangun Penerbitan sebagai Wahana Aspirasi Komunitas, Eddie B Handono dari Dria Media menyampaikan Tips Praktis dan Pengalaman Pengembangan Media Berbasis Komunitas, Ahmad Suwandi dari Yayasan Air Putih menyampaikan Tips Praktis Membangun Media Berbasis Internet untuk Advokasi Kebijakan, dan Satrio Arismunandar dari TransTV yang memaparkan Tips Praktis Mengemas Isu Kebijakan Publik dalam Media Massa.

Partisipan yang hadirpun memanfaatkan kegiatan ini untuk mensharingkan best practice (kisah sukses) dan lesson learnt (pembelajaran) dari pengalaman mengelola media komunitas yang dimiliki seperti radio komunitas, Koran warga, dan media online. “ Di Kupang radio komunitas hari ini tiarap semenjak KPID mengancam akan menutup radio yang tidak miliki ijin : ujar Paul dari PIAR NTT sembari menjelaskan kini komunitas harus memakai selebaran sebagai gantinya. Sementara Deden dari Koran Sumedang menceritakan Koran Sumedang kini telah miliki posisi tawar sebagi instrument advokasi. Suratimin dari Radeka FM-Radio Desa Kawasan Konservasi Gunungkidul juga mensharingkan tergabungnya 5 rakom Gunungkidul dalam PITA ( Pusat Informasi dan Trasnparasi anggaran) yang telah bersinergi dengan Humas Pemkab, 3 radio swasta di Gunungkidul dan 4 media cetak dalam koordinasi peliputan advokasi penganggaran daerah.

Kegiatan ini diakhiri dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut pengembangan media advokasi di 10 daerah yang akan dilakukan di masa yang akan datang.

Liputan Radekka FM

Kamis, 20 Mei 2010

Radekka FM Siarkan Program Radio Dialog Kandidat Bupati Gunungkidul 2010 - 2015



Program Radio ini diselenggarakan oleh HARIAN JOGJA, ARGOSOSRO FM, IDEA, SATUNAMA, PKBI, RIFKA ANNISSA, CD BETHESDA, ARUPA, LESMAN, SP KINASIH, LKDS, RADEKKA FM, dan MAHARDIKA FM

Untuk mendengarkan silakan klik judul.

Selasa, 18 Mei 2010

Radekka FM siarkan Program Radio Dialog Kandidat Wakil Bupati Gunungkidul 2010 - 2015




Program Radio ini diselenggarakan oleh HARIAN JOGJA, ARGOSOSRO FM, IDEA, SATUNAMA, PKBI, RIFKA ANNISSA, CD BETHESDA, ARUPA, LESMAN, SP KINASIH, LKDS, RADEKKA FM, dan MAHARDIKA FM

Untuk mendengarkan silakan klik judul.

Minggu, 04 April 2010

Perempuan DKK Terlibat dalam Studi Kunjung ke SPP Garut

Dok IDEA

Perempuan Desa Kawasan Konservasi pada 20 - 21 Maret 2010 terlibat dalam studi kunjung ke Serikat Petani Pasundan (SPP) Garut. Kegiatan yang difasilitasi IDEA Yogyakarta ini juga melibatkan segenap jaringan komunitas mitra sinau yakni Jaringan Kelompok Perempuan Gunungkidul (JKPGK), Sarana Ngerti Anggaran (SANGGAR) Gunungkidul. Jaringan Rakyat (JARAK) Bantul, Jaringan Masyarakat Kulonprogo (JMKP), Jaringan Masyarakat Pacitan (JMP) dan Saluran Informasi Akar Rumput (SIAR). Perempuan DKK yang diwakili Maryati (50) ini memanfaatkan kesempatan studi kunjung ini untuk belajar bagaimana perempuan pasundan berpartisipasi dalam gerakan bersama merebut sumber daya kehidupan komunitas dan mengelola sumber daya manusia desa untuk memajukan desanya. " Kita mendapatkan semangat dan banyak pengetahuan dari perempuan di SPP Garut" tandas Maryati.

Rabu, 03 Maret 2010

Catatan lain tentang Desa Kawasan Konservasi

Desa Kawasan Konservasi Semoyo
Written by Dwi Nugroho
Friday, 05 February 2010
Sejak ditetapkan sebagai Desa Kawasan Konservasi oleh Bupati Gunung Kidul, Suharto pada 18 Agusutus 2007, Desa Semoyo semakin bergiat untuk melakukan pelestarian lingkungan. Pelestarian lingkungan di Desa Kawasan Konservasi Semoyo dengan kearifan lokal.

Desa Semoyo, yang terletak di Kecamatan pathuk Gunung KIdul merupakan salah satu desa yang ditetapkan sebagai Desa Kawasan Konservasi oleh BUpati Gunung KIdul. Desa ini telah dianggap mampu menjaga kelestarian lingkungan.

Masyarakat di Desa Semoyo menanam tanaman lokal yang dapat menjadi ikon Desa ini yang dapat menjaga kearifan lokal maupun kelestarian lingkungan. Rencanaya, Desa ini juga akan membuat program pohon induk dimana pohon tersebut dimilii oleh setiap keluarga dan tidak boleh ditebang.

Desa Kawasan Konservasi adalah sebuah gerakan bersama komunitas untuk menjaga ekosistem desa dengan desain pola pertanian berkelanjutan. Selain itu, Desa Kawasan Konservasi ini dipadukan dengan penataan hutan rakyat yang melestarikan sumber-sumber mata air.Desa Kawasan Konservasi juga menjadi media pembelajaran sekaligus laboratorium alam komunitas dalam melestarikan lingkungan hidup dengan memanfaatkan kearifan lokal sebagai pengikat keberlanjutan pembelajaran.
Last Updated ( Monday, 15 February 2010 )

Senin, 08 Februari 2010

RADEKKA FM Siarkan Kabar Suara Komunitas

"WE CARE KITA PEDULI" RADEKKA FM Radio Desa Kawasan Konservasi setiap Hari Minggu pukul 20.00 - 20.10 WIB ikut menyiarkan Kabar Suara Komunitas (KSK). KSK merupakan program mingguan Buletin Berita yang disiarkan oleh ratusan radio komunitas di seluruh Indonesia yang tergabung dalam Jaringan Nasional Berita Komunitas.
"Program Berita Jejaring ini dilahirkan pada saat pertemuan Combine Expo di UC UGM akhir tahun lalu dan diuji coba akhir Januari lalu. Minggu 7 Februari 2010 merupakan soft launching KSK" ungkap Hernindya Wisnuadji, Program Manager RADEKKA FM>

KSK adalah kemasan audio dari berita terpopuler Suarakomunitas.net tiap minggunya. Berita yang diupload oleh pewarta warga dari seluruh Indonesia ini, yang termasuk dalam berita terpopuler, diaudiokan dan kemudian disebarkan ke seluruh Indonesia untuk diputar oleh ratusan radio tiap Hari Minggu pukul 20.00 waktu setempat. " Kabar Suara Komunitas ini sekaligus sebagai peneguhan kerja jejaring tingkat nasional pewarta warga dari seluruh Indonesia yang jumlahnya ribuan dan sebagai media untuk mengabarkan keunikan lokalitas" pungkasnya.

Jumat, 22 Januari 2010

Mengikuti Aktivitas The Learning Farm Cianjur

"WE CARE, KITA PEDULI" Serikat Petani Pembaharu (SPP) Gunungkidul berpartisipasi dalam aktivitas The Learning Farm Yayasan Karang Widya yang berlokasi di Perkebunan Teh Maleber Desa Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Pegiat Desa Kawasan Konservasi yang terlibat dalam aktivitas ini adalah AHMADI (20) yang lolos seleksi untuk bergabung pada The Learning Farm selama Januari - Juni 2010.
" Ahmadi tergabung dalam Angkatan VIII The Learning Farm selama 5 bulan ke depan untuk belajar pertanian berkelanjutan. Aktivitas ini akan menjadi model bagaimana Desa Kawasan Konservasi berjejaring dengan banyak pihak dan Yayasan Karang Widya, salah satunya, menyelenggarakan pendidikan komunitas untuk melahirkan generasi pengelola pertanian berkelanjutan." papar Suratimin, Ketua Serikat Petani Pembaharu (SPP) Gunungkidul saat melepas keberangkatan Ahmadi, Rabu 20 Januari 2010.
Setiap tahunnya Yayasan Karang Widya menyelenggarakan training 5 bulan untuk generasi muda yang tertarik dengan pertanian berkelanjutan yang diikuti perwakilan organisasi komunitas dari banyak daerah di seluruh Indonesia. "Sukses ya mas Madi".

Minggu, 03 Januari 2010

Anak pun dekat dengan Biopori



'WE CARE KITA PEDULI' Sekolah Anak Petani (SAP) Gunungkidul mengembangkan pembelajaran pembuatan biopori di lingkungan sekitar rumah masing-masing. Pembelajaran Biopori ini dilaksanakan dengan memanfaatkan waktu bermain mereka.

Senin, 28 Desember 2009


"WE CARE,KITA PEDULI" Radekka FM-Radio Desa Kawasan Konservasi pada hari Senin 21 Desember 2009 menerima kunjungan perwakilan Jaringan Masyarakat Pacitan (JMP).Mereka adalah Surami dari Kelompok Perempuan Peduli Desa Punjung Kecamatan Kebonagung, Tri dari Kelompok Kader Posyandu Desa Plumbungan Kecamatan Kebonagung, Supiah dari Kelompok Warga Pager Gunung Desa Sambong Kecamatan Pacitan dan Suger dari Kelompok Budi Utomo Srau Desa Candi Kecamatan Pringkuku. Perwakilan JMP ini mengunjungi Radekka Fm untuk belajar pengelolaan media komunitas yang lahir oleh organisasi komunitas. " Kunjungan ini sekaligus menambah motivasi JMP dalam memproduksi Program Radio JMP Nggayuh Harapan yang baru siar dua kali di Pacitan" ujar Surami, kontak person JMP sembari berdiskusi dengan Sutarmi, anggota Jaringan Kelompok Perempuan Gunungkidul (JKPGK) yang menjadi pegiat di Radekka FM. Radekka FM bersama Jaringan Media Komunitas Gunungkidul (JMKGK) memproduksi Program Radio PEREMPUAN GUNUNGKIDUL yang siar tiap bulan yang menampilkan diskusi partisipasi JKPGK dalam perencanaan penganggaran Kabupaten Gunungkidul.

Pasar Komunitas Arena Transaksi Potensi Lokal


"WE CARE, KITA PEDULI" Sabtu - Minggu, 19-20 Desember 2009 CRI dan Jaringan Suara Komunitas menggelar Pameran Pasar Komunitas di Halaman University Center (UC) UGM Yogyakarta.Beberapa mitra CRI bergabung dalam even ini memamerkan potensi di wilayah dari seluruh Indonesia. Beberapa stand yang ada menyajikan barang - barang kerajinan khas Bantul, produk organik,produk makanan olahan, foto-foto aktivitas jaringan rakom, stand khusus Sistem Informasi Desa sampai dengan stand penawaran investasi. Radekka FM - Radio Desa Kawasan Konservasi juga berpartisipasi dalam even ini dengan mendirikan stand Penawaran Investasi Sektor Peternakan. Display Pasar Komunitas ini merupakan gambaran kecil apa yang ditampilkan dalam pasarkomunitas.com yang difasilitasi CRI untuk mengembangkan Pasar Komunitas di mana rakom menjadi instrumen penggeraknya.

Kamis, 24 Desember 2009

Lomba Macapat Penurunan Resiko Bencana Radio Angkringan

" WE CARE,KITA PEDULI " RADEKKA FM-Radio Desa Kawasan Konservasi Minggu 13 Desember 2009 meliput penyelenggaraan Lomba Macapat Pengurangan Resiko Bencana dari Kompleks Studio Radio Angkringan Desa Timbul Harjo Sewon Bantul. Lomba yang diikuti oleh 41 orang dan 9 diantaranya adalah perempuan ini berasal dari berbagai daerah di Bantul. " Tiap partisipan lomba membawakan tembang macapat bertemakan Pengurangan Resiko Bencana " papar Jaswadi, Ketua Panitia Lomba kepada reporter Radekka FM.

* Klik judul untuk mendengarkan reportase

Rabu, 23 Desember 2009

Kirab Budaya Bersih Desa Nglanggeran

" WE CARE, KITA PEDULI " RADEKKA FM - Radio Desa Kawasan Konservasi pada hari Minggu 13 Desember 2009 meliput Kirab Budaya Bersih Desa Nglanggeran. Even yang dilaporkan oleh Jurnalis Warga Suranto dan Sugeng Handoko ini adalah ritual tahunan yang melibatkan 1500 orang yang bertujuan disamping untuk nguri - nguri tradisi juga untuk meneguhkan komitmen pelestarian kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran. Even yang dipusatkan di Kawasan Joglo Kalisong Nglanggeran Wetan ini selain menampilkan karnaval kirab budaya juga dilakukan pementasan kesenian dan atraksi unik. Hernindya Wisnuadji selaku Produser Gunungkidul di Hari Esok (GdHE) menuturkan bahwa even-even semacam ini dapat menjadi media melahirkan jurnalis warga yang berketrampilan melakukan reportase-reportase aktivitas yang ada di wilayahnya. " Jurnalisme warga yang makin hari makin populer karena kebutuhan ini dapat dilahirkan melalui even budaya seperti ini " pungkasnya.

*Klik Judul untuk mendengarkan reportase atau kunjungi tautan berikut
http://www.4shared.com/file/179574824/a04d54e/Reportase_Kirab_Budaya_Nglangg.html
http://www.4shared.com/file/179573209/d6c3761e/Reportase_Kirab_Budaya_Nglangg.html

Minggu, 20 Desember 2009

Radekka FM Terlibat dalam Pertemuan Jaringan Suara Komunitas & Combine Expo 2009

Dok. CRI

" WE CARE, KITA PEDULI " Radekka FM-Radio Desa Kawasan Konservasi Gunungkidul terlibat dalam Pertemuan Jaringan Suara Komunitas dan Combine Expo 2009 yang dilaksanakan 17 - 20 Desember 2009 di University Club Universitas Gajah Mada (UC-UGM) Yogyakarta. Pertemuan yang dihadiri oleh pegiat Suara Komunitas dari seluruh Indonesia ini mendiskusikan pengembangan Jurnalisme Warga yang disiarkan melalui 300an radio di Indonesia dan web warta Suara Komunitas.Berbagai gagasan disampaikan oleh partisipan untuk pengembangan jaringan pewarta komunitas di Indonesia.

Selasa, 15 Desember 2009

Perempuan Gunungkidul Edisi Desember " MUSRENBANG dan JARING ASMARA "

WE CARE KITA PEDULI
Perempuan Gunungkidul Edisi Desember 2009 bertema "MUSRENBANG dan JARING ASMARA " dengan Narasumber Suci Istami dari Jaringan Kelompok Perempuan Gunungkidul(JKPGK) dan Bapak Warto anggota DPRD Gunungkidul. Program Radio ini siar di Radekka FM, Intan FM, RKSM FM, dan Mahardika FM.

*KLIK Judul untuk mendengarkan

Jumat, 30 Oktober 2009

GdHE 51 Gunung Api Purba Nglanggeran, Desa Wisata yang dikelola Generasi Muda Phonelive sharing Sugeng Handoko, pegiat Karang Taruna Desa Nglanggeran

Menyemarakkan Hari Sumpah Pemuda ke- 81 Tahun 2009 ini Gunungkidul di Hari Esok (GdHE) edisi 51 yang disiarkan Radekka FM-Radio Desa Kawasan Konservasi 28 Oktober 2009 melakukan phonelive dengan Sugeng Handoko, pegiat Karang Taruna Desa Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran Gunungkidul. " Kami pemuda di Desa Nglanggeran sangat serius bekerjasama dalam pengelolaan potensi wisata di daerah kami dengan kegiatan-kegiatan pelestarian lingkungan hingga kami meraih Juara II Karang Taruna Berprestasi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Juara I Penyelamat Lingkungan tingkat Provinsi dan menjadi wakil DIY di tingkat nasional" tutur Sugeng Handoko, Ketua Karang Taruna Bukit Putera Mandiri Desa Nglanggeran.
GdHE edisi 51 ini sengaja mengangkat prestasi anak muda yang diraih Karang Taruna Desa Nglanggeran tersebut sebagai pembelajaran bagi generasi muda untuk dapat mengelola potensi wilayahnya. " Memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan model pembelajaran mendengarkan sharing teman-teman muda yang berprestasi ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda seperti semangat pemuda di tahun 1928 yang prihatin terhadap kondisi bangsanya saat itu yang kemudian mereka bertekat sebagai satu bangsa untuk bersatu sebagai pondasi dasar perjuangan" ujar Suratimin, Ketua Serikat Petani Pembaharu (SPP) Gunungkidul di sela-sela acara.
" Trans TV dan SCTV telah memilih Gunung Api Purba Nglanggeran ini sebagai tempat pengambilan gambar untuk program acara mereka karena keunikan lokasi, situasi, dan suasananya dan kami serius mengemasnya sebagai lokasi ekowisata " tandas Sugeng Handoko mengakhiri sharing.

KLIK juduk untuk mendengarkan

Kamis, 29 Oktober 2009

Jaringan Media Komunitas Gunungkidul



5 Radio Komunitas yang ada di Gunungkidul yakni RAG FM Ngawen, Mahardika FM Karangmojo, Suara Manunggal FM Semanu, Intan FM Playen, dan Radekka FM-Radio Desa Kawasan Konservasi Semoyo Patuk memanfaatkan momentum peringatan hari SUMPAH PEMUDA ke 81 28 Oktober 2009 untuk meneguhkan keberadaan JARINGAN MEDIA KOMUNITAS Gunungkidul. Pertemuan yang bertempat di Radekka FM ini berhasil menyepakati kesepahaman bersama pondasi perjuangan JARINGAN MEDIA KOMUNITAS Gunungkidul sebagai wadah pengembangan pembelajaran pengelolaan media komunitas yang mendorong peran komunitas dalam perencanaan pembangunan daerah. Jejaring Media ini akan dikembangkan dalam bentuk sharing program radio dan penyelenggaraan siaran bersama bertemakan isue Gunungkidul. Jejaring Media ini juga akan bekerjasama dengan jejaring komunitas yang ada di Gunungkidul untuk memperkuat jaringan CSO dalam advokasi kebijakan publik.

Green on The Barren

Green on The Barren (Hijau di Padang Tandus)adalah feature berbahasa Inggris produksi Radekka FM-Radio Desa Kawasan Konservasi Gunungkidul yang dikirim ke AMARC-World Association of Community Radio Broadcasters untuk disiarkan ke seluruh dunia dari Montreal Kanada dalam Peringatan World Food Day 16 Oktober 2009 silam. Feature yang mengangkat Desa Mandiri Pangan Mertelu Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunungkidul ini menggambarkan model penumbuhan kesadaran atas kedaulatan pangan oleh warga desa. Model Desa Mandiri Pangan yang terintegrasi dengan support beberapa SKPD-Satuan Kerja Pemerintah Daerah ini dapat dikembangkan di wilayah yang lain untuk menumbuhkan inisiatif warga dalam pengelolaan desa berbasis potensi lokal. Feature ini dihiasi permainan alat musik khas Gunungkidul Rinding Gumbeng oleh warga desa di sekitar Hutan Wonosadi. Nara Sumber : Puji, Anggota Tim Pangan Desa Mertelu, Astuti Adiyati, Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Gunung Kidul, Dr. Ir. Suharwadji MAppSc, Kepala LIPI Yogyakarta. Pegiat Produksi Feature ini : Presenter Yunika, Reporter TriWahyuni Suci Wulandari, Sound Engineer Ajie Widiawan Baskara, dan Produser Hernindya Wisnuadji

*Untuk mendengarkan silakan KLIK judul

Kamis, 22 Oktober 2009

GdHE Edisi 50 : Hutan Wonosadi, Buah Komitmen Pelestarian Alam untuk Generasi Penerus, Phonelive sharing dengan Sudiyo, Sesepuh Wonosadi

Gunungkidul di Hari Esok (GdHE) Edisi 50 yang siar di Radekka FM 21 Oktober 2009 pukul 20.00 - 22.00 WIB ini mengangkat tema Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari yang menghadirkan sharing via telephone dengan Sudiyo, sesepuh hutan Wonosadi Ngawen Gunungkidul . " Sebelum tahun 1966 Wonosadi gundul hanya tinggal 5 batang pohon " tutur Sudiyo sembari menjelaskan mulai tahun 1966 ia bersama warga sekitar Wonosadi memulai gerakan pelestarian alam. " Berbekal filosofi TEKUN TEKEN TEKAN alhasil tahun 1992 kami meraih Kalpataru dan tahun 2009 ini kami dianugerahi Juara Nasional Konservasi Alam" ungkap eyang yang sudah berusia 73 tahun ini sekaligus menjelaskan makna filosofi tersebut.Secara keseluruhan, setidaknya 41 jenis tanaman, 16 tumbuhan obat, serta sejumlah jenis jamur tumbuh lestari di sana. Terdapat juga sebanyak 40- an jenis burung, amfibi, reptil, mamalia, dan serangga. " Kerja keras luar biasa selama lebih dari 40 tahun " komentar Suratimin, Ketua Serikat Petani Pembaharu (SPP) Gunungkidul dan kembali meneguhkan komitmen warga Desa Kawasan Konservasi dan Desa Jaringan untuk belajar dari Masyarakat Wonosadi

*Untuk mendengarkan silakan KLIK judul

Selasa, 20 Oktober 2009

Perempuan Gunungkidul Edisi 2 : Sinau Anggaran, Meningkatkan Partisipasi Perempuan dalam Perencanaan Penganggaran Daerah

Program Radio Perempuan Gunungkidul Edisi 2 yang disiarkan oleh Jaringan Media Komunitas (JMK) Gunungkidul kali ini mengambil tema Sinau Anggaran (Belajar Anggaran). Acara yang dikemas dalam diskusi santai ini menghadirkan Mbak Puji Astuti dan Mbak Purwanti dari Jaringan Kelompok Perempuan Gunungkidul (JKPGK) dan Tri Wahyuni Suci Wulandari sebagai host. ” Dalam Sinau Anggaran, kami belajar memetakan permasalahan komunitas kami melalui permainan ular tangga manusia.” ujar Mbak Puji sembari menjelaskan maksud permainan tersebut sekaligus tahapan lainnya dalam Sinau Anggaran yang telah dilakukan di 5 kelompok perempuan di 5 kecamatan di Kabupaten Gunungkidul. ” Kami belajar dari gambar-gambar yang menunjukan rakyat telah banyak membayar pajak dan retribusi yang disetor ke kas negara yang berarti rakyat berhak atas pelayanan publik yang baik dari pemerintah ” tambah Mbak Pur. Diskusi Sinau Anggaran berdurasi 60 menit ini mensharingkan pengalaman JKPGK dalam menyelenggarakan Sinau Anggaran yang didampingi IDEA Yogyakarta. ” Yang terpenting mbak dari Sinau Anggaran ini kami bisa merubah pandangan keterlibatan perempuan dalam perencanaan pembangunan daerah ” tandas Mbak Pur.

* Untuk mendengarkan silakan KLIK judul

Senin, 19 Oktober 2009

Desa Semoyo Siapkan Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari


GUNUNG KIDUL_(BeritaJogja) Bertempat di Sekretariat SPP (Serikat Petani Pembaharu) Desa Semoyo, Pathuk Gunung Kidul dilakukan persiapan untuk melakukan pengelolaan hutan rakyat lestari. Pertemuan yang dihadiri oleh masyarakat Desa Semoyo pekan lalu ini sepakat untuk melakukan pengelolaan hutan rakyat lestari.

Menurut Ketua SPP Desa Semoyo, Suratimin (50 tahun) mengungkapkan,"Desa Semoyo sangat siap dengan kegiatan-kegiatan dan administrasi untuk melakukan pengelolaan hutan rakyat lestari".

"Untuk kegiatan awalnya nanti kita akan melakukan pemetaan lahan dan inventarisasi pohon terlebih dahulu", tambah Suratimin.

Kegiatan pengelolaan hutan rakyat lestari merupakan suatu pengelolaan lahan milik yang dikelola tanpa merusak ekologis dan tetap menjaga lingkungan. Dalam pengelolaan hutan rakyat lestari nantinya perlu ada aturan-aturan yang mengikat untuk tetap menjaga lingkungan dan berkelanjutan.

Dalam pengelolaan hutan rakyat lestari akan diberlakukan jatah ditebang atau yang disebut dengan etat. Dengan adanya etat, dalam menebang kayu tidak boleh secara asal atau melebihi etat. Apabila penebangan melebihi etat maka pengelolaanya sudah tidak lagi disebut lestari.

Desa Kawasan Konservasi Semoyo, Melestarikan Lingkungan Dengan Kearifan Lokal

GUNUNG KIDUL_(BeritaJogja) Sejak ditetapkan sebagai Desa Kawasan Konservasi oleh Bupati Gunung Kidul, Suharto pada 18 Agusutus 2007, Desa Semoyo semakin bergiat untuk melakukan pelestarian lingkungan. Pelestarian lingkungan di Desa Kawasan Konservasi Semoyo dengan kearifan lokal.

Desa Semoyo, yang terletak di Kecamatan pathuk Gunung KIdul merupakan salah satu desa yang ditetapkan sebagai Desa Kawasan Konservasi oleh BUpati Gunung KIdul. Desa ini telah dianggap mampu menjaga kelestarian lingkungan.

"Masyarakat di Desa Semoyo menanam tanaman lokal yang dapat menjadi ikon Desa ini yang dapat menjaga kearifan lokal maupun kelestarian lingkungan", ungkap Suratimin (50 tahun) yang menjabat Ketua Serikat Petani Pembaharuan Desa Semoyo.

"Rencanaya, Desa ini juga akan membuat program pohon induk dimana pohon tersebut dimilii oleh setiap keluarga dan tidak boleh ditebang", tambahnya.

Desa Kawasan Konservasi adalah sebuah gerakan bersama komunitas untuk menjaga ekosistem desa dengan desain pola pertanian berkelanjutan. Selain itu, Desa Kawasan Konservasi ini dipadukan dengan penataan hutan rakyat yang melestarikan sumber-sumber mata air.Desa Kawasan Konservasi juga menjadi media pembelajaran sekaligus laboratorium alam komunitas dalam melestarikan lingkungan hidup dengan memanfaatkan kearifan lokal sebagai pengikat keberlanjutan pembelajaran.

Kamis, 15 Oktober 2009

GdHE 49 : Desa Mandiri Pangan Mertelu, Kisah Sukses Menyelamatkan Tanaman Pangan Lokal

Ikut menyemarakkan peringatan HARI PANGAN SEDUNIA 16 Oktober 2009, Gunungkidul di Hari Esok edisi 49 mendiskusikan Desa Mandiri Pangan Mertelu,kisah sukses menyelamatkan tanaman pangan lokal. Program Radio reguler tiap rabu malam ini kali ini menghadirkan wawancara dengan Tim Pangan Desa Mertelu Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunungkidul dan Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Gunung Kidul, Astuti Adiyati.

Tim Pangan Desa Mertelu membagikan cerita pengelolaan dana bantuan dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk budi daya tanaman lokal dan aktivitas pasca produksi. " Bersama kelompok perempuan,kami memproduksi tepung dari sukun, ketela, ganyong, dan umbi- umbian. Dari tepung ini kami bikin jadi makanan lokal seperti kerupuk dan kue dan dari tepung sukun kami buat mie." Tim Pangan Desa Mertelu juga menjelaskan integrasi sektor peternakan dalam program desa mandiri pangan ini.
Astuti Adiyati Kepala Bidang Ketahanan Pangan Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Gunung Kidul menjelaskan bahwa Program Desa Mandiri Pangan ini sudah dilakukan selama 3 tahun untuk 14 Desa. " Program ini memiliki 4 tahap dalam 4 tahun, tahap pertama adalah persiapan, tahap kedua penumbuhan, tahap ketiga pengembangan dan tahap keempat yakni kemandirian dan Desa Mertelu dan Planjan sudah ada di tahap 3 dan program integrasi lintas SKPD untuk mendukung desa mandiri pangan tahap ketiga ini sudah mencapai 1 milyar untuk tiap desa" imbuhnya.

GdHE edisi 49 yang diproduksi Radekka FM ini juga dikemas dalam bentuk feature berbahasa Inggris yang dikirim ke AMARC (Asosiasi Radio Komunitas Dunia) sebagai partisipasi Radekka FM dalam Parade Program Radio World Food Day yang disiarkan ke seluruh dunia pada 16 Oktober 2009

* Untuk mendengarkan silakan klik judul

Jumat, 11 September 2009

PEREMPUAN GUNUNGKIDUL SIAR EDISI PERDANA


Radekka FM Radio Desa Kawasan Konservasi sebagai salah satu anggota Jejaring Media Komunitas Gunungkidul pada hari Sabtu 5 September 2009 pukul 15.00 - 16.00 WIB mengudarakan Program Radio Perempuan Gunungkidul edisi perdana. Acara ini dipandu Triwahyuni Suci Wulandari dan menghadirkan nara sumber perwakilan dari JKPGK (Jaringan Kelompok Perempuan Gunungkidul) yakni Pujiastuti dan Purwanti. Program Radio Perempuan Gunungkidul ini dikemas dalam obrolan santai yang membahas permasalahan perempuan Gunungkidul, keprihatinan warga, pengembangan potensi lokal, kebijakan negara, perjuangan Jaringan Kelompok Perempuan Gunungkidul, dan diskusi berita terkini tentang Gunungkidul terkait Perempuan. Program Radio ini diharapkan menjadi pembelajaran on air komunitas tentang penyiapan kehidupan perempuan di hari esok dan akan dikembangkan dengan menghadirkan pemangku kepentingan mulai dari tingkat desa, kecamatan maupun tingkat kabupaten dan propinsi.

Untuk mendengarkan silakan klik judul

Rabu, 02 September 2009

GdHE 45 : Keberagaman Pangan di Gunungkidul phonelivesharing Kepala LIPI Yogyakarta Dr. Ir. Suharwadji MAppSc

Gunungkidul di Hari Esok (GdHE) edisi 45 yang disiarkan Radekka FM Rabu 2 September 2009 mendiskusikan keberagaman pangan di Gunungkidul yang menghadirkan phonelivesharing dengan Dr. Ir. Suharwadji MAppSc, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yogyakarta.
"Kami mengembangkan pangan berbahan kedelai, seperti tempe untuk bahan baku biskuit, tampe kare dan sayur lombok ijo dalam kemasan kaleng" papar Dr. Suharwadji sembari mengungkapkan bahwa tugas LIPI adalah untuk mengimplementasikan hasil-hasil penelitian terutama dalam bidang pangan, pakan, dan bahan alam atau lingkungan.
"Kare tempe bahkan pernah diekspor ke Inggris dan Jepang serta bengkoang yang diproses menjadi bahan kosmetik yang dikirim ke Jepang, pada taraf pengujian kami sedang memproses ganyong untuk makanan dalam pipa bagi pasien rumah sakit" imbuhnya.
"Wah pengembangan bahan lokal yang sangat potensial bagi Gunungkidul" komentar Suratimin, Ketua Serikut Petani Pembaharu (SPP) Gunungkidul di sela-sela diskusi.

*Untuk mendengarkan silakan klik judul

Senin, 31 Agustus 2009

Pertemuan Rutin SIAR Jogja dan Buka Bersama di Radekka FM


Minggu 30 Agustus 2009, Radekka FM menjadi tuan rumah Pertemuan Rutin SIAR Jogja dan Buka Bersma. Pertemuan yang dihadiri 22 orang dari 13 rakom dan media komunitas serta aktivis CRI dan IDEA ini mendiskusikan proses perijinan rakom anggota SIAR Jogja, mempersiapkan kunjungan NGO-CBO mitra Oxfarm dari Nusa Tenggara Timur serta pengembangan SIAR Jogja. "Pertemuan ini merupakan agenda strategis SIAR Jogja untuk memperkuat jaringan Rakom dan media komunitas " kata M Ibnu Sumarno, dari Suara Malioboro FM, membuka forum diskusi.
Diskusi yang sarat sendau gurau khas aktivis media komunitas ini namun serius mengekspresikan kegelisahan atas prosedur perijinan rakom yang makin hari makin dipersulit dan ditengarai merupakan usaha sistemik dari negara atas pesanan pemodal untuk secara perlahan membunuh eksistensi ribuan radio komunitas di Indonesia.
"Padahal rill, kami berdarah-darah melestarikan nilai-nilai lokal dan jadi garda swadaya dalam pengembangan potensi lokal, itu tidak dilakukan oleh radio swasta dan bahkan radio publik" celetuk partisipan bersahutan. Hanya satu kalimat yang tepat "LAWAN DEMI KEPENTINGAN RAKYAT,tapi dengan cara beradab, Bung!"

Kamis, 27 Agustus 2009

Mendiskusikan Analisis Kemiskinan Partisipatif (AKP) phonelive sharing Yunior Adichandra Nange dari PIAR Nusa Tenggara Timur

Program Radio Gunungkidul di Hari Esok (GdHE) edisi 44 yang disiarkan Radekka FM Radio Desa Kawasan Konservasi Rabu 26 Agustus 2009 Pukul 20.25 – 22.00 WIB mengambil tema Mendiskusikan Analisis Kemiskinan Partisipatif (AKP) bersama Yunior Adichandra Nange dari Perkumpulan Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR) Nusa Tenggara Timur

“AKP ini sangat penting disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat yang berada di lokasi dimana kita akan melakukan AKP sehingga terbangun kesepahaman bersama tentang AKP ini” papar Bung Adi mengawali sharing.

Diskusi AKP ini diangkat menjadi tema GdHE edisi 44 ini untuk memberikan pembelajaran komunitas dalam menyepakati indikator kemiskinan oleh komunitas sendiri. Proses ini sangat diperlukan oleh komunitas dalam menentukan siapa yang masuk kategori miskin sehingga proses pengentasan kemiskinanpun akan fokus dan tepat sasaran kepada yang disepakati sebagai keluarga miskin. Implikasi dari AKP ini nantinya akan meminimalisir kecemburuan dalam program-program pengentasan kemiskinan seperti program raskin, BLT, dan bahkan berguna dalam advokasi anggaran pro miskin.

*Klik judul untuk mendengarkan

Kamis, 20 Agustus 2009

Mendiskusikan PAD Gunungkidul 2009 Phonelive sharing dengan Sunarjo IDEA

Gunungkidul di Hari Esok edisi 43 yang disiarkan Radekka FM Gunungkidul 19 Agustus 2009 pukul 20.00 – 22.00 WIB melakukan phonelive sharing dengan Sunarjo dari Institute for Development and Economic Analysis (IDEA) Yogyakarta dengan mengangkat tema Mendiskusikan PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kabupaten Gunungkidul 2009
“Dengan adanya Perda yang baru kenaikan dari retribusi kesehatan ini akan berdampak pada masyarakat miskin, meski ada Jamkesmas ataupun Jamkesos namun tidak semua keluarga miskin mendapatkannya sehingga ini semakin membebani keluarga miskin. Di satu sisi banyak hal yang bisa menaikkan PAD namun bila dicermati ada banyak hal pula yang menjadi dampaknya yakni menambah beban masyarakat miskin, menambah kerentanan dan bencana, serta banyak hal yang jadi pertanyaan” ungkap Sunarjo

*Klik Judul untuk mendengarkan

Selasa, 18 Agustus 2009

Sharing Kemerdekaan dengan Anak Muda Belanda


Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-64 ini Radekka FM Radio Desa Kawasan Konservasi Gunungkidul menyiarkan Sharing Kemerdekaan dengan Anak Muda Belanda yang menghadirkan Janneke Bosman, Alumni Leiden University Belanda. Acara yang dipandu Romna dan Yunika ini mendiskusikan hal – hal ringan tentang kehidupan anak muda Belanda dalam merayakan kemerdekaan Belanda dari Jerman serta diskusi menarik tentang desa di Belanda. “Orang belanda kini sudah mulai lupa terhadap perayaan kemerdekaan Belanda karena sudah lama” tuturnya. ” O berarti bukan hanya di Indonesia saja ya yang luntur semangatnya dalam memperingati hari kemerdekaan bangsanya” timpal Yunika dan Romna hampir bersamaan.
Janneke yang berasal dari kota Tilburg Belanda ini juga mensharingkan aktivitasnya di Indonesia. “Setelah 2 bulan di jogja saya akan ke Pulau Samosir, Sumatera Utara” ucap dara manis yang memiliki darah Manado ini.

SMS dari Sahabat Radekka yang menanyakan tentang kincir angin seakan menambah gaduh acara karena Janneke kebingungan tentang ukuran tingginya. “Mungkin 15 meter ya” ungkapnya disambut tanya kebingungan Yunika dan Romna, “Kok nggak tinggi ya?”. “Tinggi besar kok mungkin saya salah sebut angka 15 meter” ujarnya sembari menjelaskan bahwa selain untuk energi, kincir angin juga dimanfaatkan untuk membuat roti. Sharing Kemerdekaan ini disiarkan Radekka FM Senin 17 Agustus 2009 Pukul 16.30 – 18.00 WIB untuk mewarnai Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI. ”Kami tetap tak luntur semangat dan pemaknaan kok dalam merayakan peringatan kemerdekaan” bisik Hernindya Wisnuadji sang produser acara.

*Klik judul untuk mendengarkan

Senin, 17 Agustus 2009

Program Radio HABITAT Edisi Agustus 2009 - Melestarikan Sumber Air dengan Biopori-

"Melestarikan sumber air dengan sistem Zonasi yakni Zona Rehabilitasi dan Zona Inti akan mengefektifkan kerja-kerja konservasi. Zona Rehabilitasi adalah Zona untuk merehabilitasi lahan dengan penanaman tanaman yang tepat untuk konservasi misalkan jenis tanaman yang bukan rakus air, sedangkan Zona inti adalah zona dimana upaya-upaya pengendalian air pada lahan yang terdekat dengan sumber air. Desa Kawasan Konservasi telah melakukan zonasi pada sumber air Ngetuk dan pada zona inti telah dilakukan pembuatan sumur resapan dan biopori" tutur Bambang Heri, spesialis Lingkungan yang berkarya bersama masyarakat di Desa Kawasan Konservasi pada Program Radio Habitat Edisi Agustus dengan Tema Melestarikan Sumber Air dengan Biopori yang disiarkan oleh Radekka FM Radio Desa Kawasan Konservasi Minggu 16 Agustus 2009 pukul 19.00 - 21.00 * Klik judul untuk mendengarkan

Jumat, 14 Agustus 2009

"MERDEKA ATAU MASIH TERJAJAHKAH KITA ?" Phonelive Sharing dengan Nisa Wargadipura Serikat Petani Pasundan (SPP) Garut

“Mereka biasanya mentok kalau hasil buminya tidak maksimal kemudian mereka harus keluar desa untuk berganti pekerjaan ke Jakarta, Surabaya, Jogja dan kota lainnya, kami harus memelihara kreativitas milik petani supaya mereka tetap menanami tanah mereka, kini mereka bisa memelihara tanaman sengon yang hasilnya sudah bisa untuk beli motor sampai bisa naik haji sembari kami perjuangkan legalitas tanahnya” tutur Nisa Wargadipura dari Serikat Petani Pasundan (SPP) Garut yang disampaikan dalam Gunungkidul di Hari Esok Edisi 42, dengan tema Merdeka atau Masih Terjajahkah Kita ? yang disiarkan oleh Radekka FM Radio Desa Kawasan Konservasi Rabu 12 Agustus 2009 pikul 20.00 - 22.00
*Klik judul untuk mendengarkan

Kamis, 06 Agustus 2009

Gunungkidul di Hari Esok Edisi 41 Tema Perencanaan Desa -Phonelive Sharing dengan Yusuf Murtiono FORMASI Kebumen-

http://www.4shared.com/file/123267589/58c235e6/GdHE41-Perencanaan_Desa.html

Sharing Perencanaan Desa selalu menarik untuk terus dilakukan. Program Radio Gunungkidul di Hari Esok Edisi 41 menghadirkan phoneline sharing tentang perencanaan desa dengan Yusuf Murtiono dari FORMASI-Forum Masyarakat Sipil-Kabupaten Kebumen yang telah berproses dalam perencanaan desa di 449 desa dengan semboyan MEMBAWA PEMBARUAN DARI DESA.

Jumat, 31 Juli 2009

TUTORIAL - MODEL PELESTARIAN SUMBER AIR ZONA NGETUK DESA KAWASAN KONSERVASI




Langkah-langkah pelestarian sumber air Zona Ngetuk Desa Kawasan Konservasi :
1. Pengelolaan dan rehabilitasi vegetasi pada daerah dataran tinggi yang diharapkan akan berfungsi sebagai daerah cadangan air dan penanggulangan tanah longsor.
2. Pembuatan sumur peresapan di beberapa titik warga yang sudah terealisasi berjumlah 10 sumur peresapan.
3. Membangun bangunan penahan aliran sungai pada saat limpasan air hujan yang tinggi. Di beberapa titik aliran sungai sudah terbangun 4 gali plate (bendung sederhana penahan air)
4. Membuat rolakan (galian tanah sederhana) pada lahan-lahan miring guna menghindari longsoran dan menahan limpasan air hujan.
5. Membuat lubang bio pori di setiap lahan kosong rumah-rumah warga. Metode yang digunakan untuk merencanakan jumlah lubang bio pori (LBP) adalah dengan rumus :

Jumlah LBP = intensitas hujan maksimum x luas bidang kedap / laju peresapan air

Dalam gambar di atas model pelestarian sumber air Zona Ngetuk diawali dengan membuat zona inti rehabilitasi sumber air dengan bio pori dengan luasan zona kecil yaitu (50 x 100) m2. Jumlah lubang bio pori = (50 x 5000)/180 = 1.389 buah. Jumlah ini masih terus diupayakan bertambah sampai mencapai jumlah ideal sesuai dengan luas bidang kedap di sekitar sumber air Ngetuk. Sebagai ilustrasi jumlah ideal lubang bio pori adalah sebagai berikut :


Data penduduk di sekitar sumber air Zona Ngetuk

Jumlah KK /Kepemilikan halaman rata-rata /Intensitas hujan maksimal tiap tahun / Laju peresapan air rata-rata :
120 KK / 150 m2 / 50 mm/jam / 3 liter/menit = 180 liter/jam

Dari data dapat dihitung jumlah lubang pori yaitu :
LBP = (50 mm/jam x 18000 m2)/(3x60)liter/jam = 5000 buah, jadi idealnya masing-masing KK memiliki 42 lubang bio pori.

Jumat, 19 Juni 2009

Pengukuhan Ki Roni Bagong Dalang Desa Kawasan Konservasi


Ada yang menarik pada perayaan Rasulan di Desa Kawasan Konservasi tahun 2009 ini. Khusus untuk Dusun Salak dan Wonosari perayaan Mboyong Dewi Sri yang juga dikenal dengan ritual Bersih Desa ini disemarakan dengan Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk dengan judul Tumurune Aji Narantaka dengan Dalang Ki Roni Bagong. Ritual Rasulan yang jatuh pada hari Rabu Legi Bulan Jumadil Akhir 1942 JE/17 Juni 2009 sekaligus sebagai kesempatan mengucapkan Terima Kasih atas bakti mantan Dukuh Salak Sumardiyono dan Selamat Berbakti pada Dukuh Salak yang baru Sukasno serta pengukuhan Dalang Ki Roni Bagong sebagai Dalang Desa Kawasan Konservasi. Pagelaran Wayang Kulit yang dimulai pukul 22.00 WIB ini disiarkan langsung oleh Radekka FM Radio Desa Kawasan Konservasi dari pelataran kediaman mantan Dukuh Salak Sumardiyono. “ Rangkaian kegiatan Rasulan tahun ini harus dimaknai untuk mengembalikan nilai – nilai syukur atas berkah hasil bumi dan menyegarkan komitmen kerukunan, kedamaian, hidup harmoni dengan alam serta momentum pembelajaran nguri-nguri budaya leluhur dengan meniadakan ego senior dan pembunuhan generasi. Lahirnya Ki Roni Bagong yang alumnus Sekolah Dalang Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat ini memperkuat barisan generasi muda yang mencintai budaya dengan membumikannya dengan lingkungan sekitar. Hal ini semakin mempertegas ikon Desa Kawasan Konservasi” komentar Suratimin Ketua Serikat Petani Pembaharu (SPP) Gunungkidul di sela-sela acara. Terima kasih yang sebesar-besarnya diucapkan untuk teman-teman Murakabi FM atas peminjaman alat relay sehingga Radekka FM mendapatkan pembelajaran Live Event Relay .

Kamis, 28 Mei 2009

Memperingati Hari Jadi Gunungkidul ke-178 & 3 Tahun Gempa Jogja dengan Talkshow RPJMDes sensitif Penurunan Resiko Bencana

Ikut memperingati Hari Jadi Gunungkidul ke 178 dan 3 tahun Gempa Jogja, Radekka FM dalam Gunungkidul di Hari Esok (GdHE) edisi 34, 27 Mei 2009 pukul 20.00 - 22.00 WIB mengangkat tema Mendiskusikan RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menegah Desa) sensitif Penurunan Resiko Bencana. Tema tersebut diangkat sebagai pembelajaran bagi banyak desa di Kabupaten Gunungkidul yang saat ini sedang giat melihat kembali RPJMDes-nya.
Melalui Phonelive, Edi Murjito, Lurah Desa Sidomulyo Kecamatan Bambanglipuro Kabupaten Bantul membagikan cerita RPJMDes Sidomulyo yang proses penyusunannya melibatkan keseluruhan elemen desa dan sudah mempertimbangkan penurunan resiko bencana. " Kami belajar bersama 300an stakeholder desa untuk memetakan permasalahan warga dan menggali kebutuhannya. " paparnya sembari menambahkan bahwa yang terpenting adalah proses yang melibatkan semakin banyak warga dan menyadarkan bahwa proses tersebut adalah milik warga. " Penggalian kebutuhan juga mempertimbangkan kajian penurunan resiko bencana, misalkan kebutuhan saluran irigasi dan bangunan fisik lainnya yang bertujuan untuk menurunkan kerawanan terhadap bencana" imbuhnya.
Diskusi semakin hangat dengan tambahan wacana dari Sunarjo, seorang pegiat IDEA Jogja. " Gunungkidul yang memiliki kontur perbukitan yang rawan bencana longsor harus mewujudkan aktivitas-aktivitas pembangunannya yang ada dibawah SKPD yang sensitif penurunan resiko bencana, misalnya ketika membangun sebuah jalan harus dikaji dulu lokasinya terkait kerawanan terhadap bencana. Hal ini disamping menyelamatkan pengendara kendaraan yang nantinya akan menggunakan infrastruktur tersebut sekaligus menghindarkan pemborosan anggaran berupa rusaknya infrastruktur akibat bencana yang bisa terjadi " jelasnya.
Terkait proses penyusunan RPJMDes, Sunarjo berpesan " Desa harus berdiskusi lebih dalam lagi terkait perencanaan pembangunan yang sensitif penurunan resiko bencana supaya pengelolaan anggaran desa yang minim tersebut dapat efektif dikelola dan hasil dari pembangunan tersebut tidak menambah kerentanan warga terhadap bencana.

Kamis, 21 Mei 2009

Kebangkitan Nasional Berkonteks Desa

Gunungkidul di Hari Esok edisi 33, 20 Mei 2009 pukul 20 - 22, mengangkat tema Kebangkitan Nasional berkonteks Desa. Talkshow interaktif suara rakyat ini mendiskusikan semangat Budi Utomo yang lahir 101 tahun yang lalu untuk menginisiasi perjuangan melawan ketertindasan akibat penjajahan yang menjadikan bangsa Indonesia bodoh dan miskin. Semangat Budi Utomo ini kemudian ditarik berkonteks desa, wilayah yang terdekat dengan kehidupan keseharian Sahabat Radekka.
Desa dimana para Sahabat Radekka tinggal juga masih terpetakan sebagai daerah yang belum tergarap maksimal segenap potensinya. hal ini terjadi karena mayoritas warga masih memiliki keterbatasan pengetahuan dan kapasitas sehingga kondisi keluarga-keluarga juga belum terkategorikan sejahtera. Semangat Budi Utomo inilah yang didiskusikan dalam GdHE edisi ini.
Talkshow menjadi semakin hangat ketika host GdHE Hernindya Wisnuadji dan Ketua SPP Suratimin melakukan phonelive dengan Lurah Desa Nglegi Aripin yang mensharingkan proses perencanaan pembangunan Desa Nglegi yang dilakukan dengan berbasis partisipasi warga. " Kami memulainya dengan membentuk relawan desa yang bersama-sama membangun komitmen untuk merubah masa depan desa" papar Aripin, sembari menceritakan bahwa proses perencanaan pembangunan desa mencatat sejarah baru partisipasi perempuan hingga 69 %. " Kami marathon 1,5 tahun ini mulai dari penguatan seluruh kelembagaan desa mulai dari Perangkat, BPD,LPMD,PKK hingga Karang Taruna dan sampai tingkat keluarga untuk proses pembaruan desa ini " imbuh Aripin yang sebelumnya pernah duduk menjadi Wakil Ketua BPD Nglegi ini.
" Kami bersama warga berhasil menyepakati sebuah kesepahaman fundamental bahwa kami membutuhkan peningkatan kapasitas melalui pembelajaran dan warga menjadi sadar bahwa selama ini ketika mereka menuntut permodalan untuk usaha produktif tanpa adanya pembelajaran tidak pernah akan merubah keadaan" sambung Lurah Desa yang enerjik ini. Ketika ditanya kunci dari keberhasilan ini dia dengan mantap menjawab, " Kepedulian dan mengajak warga untuk peduli menjadi kunci utama "
SMS dari Sahabat Radekka juga semakin menjadikan regeng. Ipung, warga Nglegi, sangat mendukung proses yang dilakukan Lurah Desanya ini, " K3 yang terpenting Mas, Kapasitas Kesempatan dan Kemauan diperlukan terus menerus untuk melanjutkan proses ini " Sementara itu Yono dari DKK mengirimkan SMS " Pemimpin yang amanah adalah yang mengajak segenap warga memetakan permasalahan desanya dan bersama-sama pula merencanakan pembangunan desa "
" Ya, belajar membangkitkan wilayah yang terkecil dulu saja yakni desa, apabila ini berhasil pasti akan berkontribusi pada Kebangkitan Nasional " ajak Suratimin sekaligus menutup acara.

Jumat, 10 April 2009

Gunungkidul di Hari Esok Live Event Sisi Lain Pemilu 2009



Radekka FM Radio Desa Kawasan Konservasi memanfaatkan momentum Pemilu 2009 ini dengan menyelenggarakan Program Radio Gunungkidul di Hari Esok Live Event Sisi Lain Pemilu 2009, 9 - 10 April 2009. Program Radio ini mulai mengudara mulai pukul 10.00 hingga 18.00 wib pada 9 April 2009 dan dilanjutkan ke-esokan harinya pukul 09.00 hingga 18.00 wib.
Live event Sisi Lain Pemilu 2009 ini selain melakukan reportase proses pemungutan suara di Desa Kawasan Konservasi yang merupakan kerjasama Radekka FM dan Panitia Pemungutan Suara Desa Kawasan Konservasi Semoyo juga melakukan phone interview dengan teman-teman pemantau pemilu dan pegiat rakom di beberapa daerah di Indonesia. Live event yang dipandu secara bergantian oleh Hernindya Wisnuadji, Bambang Hery, dan Suratimin ini menyajikan sharing tentang proses pemungutan suara, hasil pantauan pemilu, menggali tanggapan masyarakat, dan menggali pengalaman rakom lainnya dalam liputan Pemilu 2009. Berikut beberapa petikan reportase dan phone interview sepanjang Live Event Sisi Lain Pemilu 2009.
"Pemilu 2009 ini sangat lemah dalam sosialisasinya sehingga bukan hanya pemilih, KPPS-pun juga kebingungan" ujar Simkply dari KIPER HAM Flores NTT. Hal senada juga disampaikan Tohap dari JARKOMSU di Simalungun Sumatera Utara. Sedangkan Kak Yus dari An Nissa Centre, LSM lokal di Banda Aceh bercerita, "Surat Suara di Aceh lebih panjang karena ada tambahan 6 partai lokal".
Hendro Pleret dari Swadesi FM mencermati, "KPPS harusnya melakukan try out terlebih dahulu" dan Jarwanto dari Murakabi FM berujar "KPPS dengan keterbatasan SDM-nya harusnya mendapatkan perhatian lebih dari KPU". Amrun dari Angkringan FM bercerita kisruh DPT juga terjadi di Sewon. "Ada satu kampung yang 100an warganya hangus hak pilihnya karena tidak terdaftar di DPT" ujarnya.
Isnawati,seorang pemantau independen menuturkan, "Ada seorang ibu setengah baya yang harus menyiapkan kepekan (contekan-red) supaya tidak salah tempat nyentang" sedangkan Yemmestrie Enita, pemantau dana pemilu Forum LSM Yogyakarta,berujar,"Bisa jadi akan ada cerita menarik dari laporan dana pemilu dari tiap parpol yang nanti baru didapatkan 55 hari setelah hari H pemilu" sembari menyebutkan ada partai yang Hutang iklan di TV Swasta pada pemilu 2004 yang belum dibayar.
Pencermatan Joko dari Bojonegoro Institute yang disampaikan ke Radekka FM menyebutkan lebih dari 35 % surat suara mayoritas TPS pantauan di Bojonegoro tidak sah karena Human error.
Sedangkan Sri Wijiyati dari IDEA-Institute for Development and Economic Analysis Yogyakarta mengajak para pemilih melakukan aksi pasca pemungutan suara. "Pemilih jangan membiarkan proses relasi pemilih dengan caleg yang dipilih terhenti setelah pemungutan suara, pemilih dalam posisi sebagai warga negara harus bisa menuntut wakilnya untuk memperjuangkan hak warga negara selama 5 tahun ke depan"
Nana, seorang pemilih pemula Desa Kawasan Konservasi, bercerita, "Ya butuh beberapa hari untuk mencermati caleg-caleg yang akan dipilih,tapi akhirnya aku punya pilihan meski ada satu surat suara yang aku centang gambar partainya saja karena aku gak tau bagaimana caleg-calegnya"
Mugiriyanto Ketua BPD Desa Kawasan Konservasi Semoyo menuturkan, "Banyak yang bisa dicatat dalam Pemilu 2009 ini terkait pelaksanaan pemilu oleh PPS dan 6 KPPS di DKK, kita harus belajar dari catatan itu"
Selain phone interview tersebut Radekka FM secara periodik melakukan kontak dengan Ketua PPS,Sunarto. dan anggota PPS, Sugiyono, untuk meng up date informasi proses pemungutan suara di 6 TPS.
Suratimin selaku Ketua Serikat Petani Pembaharu (SPP) Gunungkidul menyatakan bahwa kegiatan Pemilu 2009 ini masih menggambarkan kerakusan tokoh tua yang tetap ingin menjadi anggota KPPS."Padahal Pemilu 2009 ini lebih rumit dan terbukti dari 7 anggota KPPS yang bisa bekerja efektif selama proses 1 hari kemarin hanya 2 atau 3 orang, anggota KPPS yg lain sudah kelelahan ataupun tidak kuat kerja administrasi, ya inilah gambaran tokoh-tokoh tua yang tidak sadar diri dan membunuh generasi yang akhirnya menyusahkan yang lebih muda." tandas Suratimin menutup Gunungkidul di Hari Esok Live Event Sisi Lain Pemilu 2009 Radekka FM
Radekka FM menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada para nara sumber yang telah meluangkan waktu untuk sharing dalam program radio ini dan memohon maaf bagi beberapa pegiat rakom di luar jawa yang sudah stand by namun karena satu dan lain hal gagal untuk dihubungi. Semoga lain waktu kita bisa dapatkan kesempatan lagi. Akhirnya kami mendapatkan kesempatan belajar mengelola Live Event meski harus berkelit dengan banyak keterbatasan yang ada pada kami.